GUNUNGKIDUL MULAI PANEN RAYA UBI KAYU TAHUN 2026

SAPTOSARI – Memasuki musim kemarau di Gunungkidul, masyarakat petani mulai melaksanakan panen raya ubi kayu. Ubi kayu yang ditanam pada musim penghujan pertama datang biasanya ditanam secara tumpangsari dengan padi dan jagung. Ubi kayu akan dipanen pada 10 bulan setelah tanam, sehingga apabila ditanam pada bulan Oktober maka pada bulan Juli atau Agustus tahun berikutnya akan panen, bertepatan dengan tibanya musim kemarau di Gunungkidul.

Menurut Danang Sutopo, S.Hut.T., Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan, dijelaskan bahwa luas tanam ubi kayu periode 2025/2026 yang ditanam pada bulan Oktober 2025 mencapai sekitar 42.000 hektare yang tersebar di 18 kapanewon.

Menurutnya, laporan yang masuk di DPP hingga bulan Juni mencatat luas panen ubi kayu mencapai 309 hektare di Kapanewon Semin. Sementara itu, laporan luas panen ubi kayu bulan Juli belum masuk ke DPP dan akan dilaporkan pada bulan Agustus.

Untuk target produksi seluruh Gunungkidul pada tahun 2026 diperkirakan mencapai sekitar 900.000 ton ubi kayu basah. Meski demikian, dirinya mengetahui bahwa di beberapa wilayah, terutama zona selatan, sudah mulai memasuki panen raya ubi kayu pada akhir bulan Juli ini.

Terpisah, Wulan Utami, S.P., Koordinator Penyuluh Pertanian Kapanewon Saptosari, melaporkan bahwa panen ubi kayu di Saptosari pada Juli ini mencapai 2.706 hektare dari total pertanaman ubi kayu seluas 4.510 hektare, atau sekitar 60 persen telah dipanen.

Sedangkan Sulardi, PPL Girisubo, melaporkan bahwa ubi kayu di Girisubo telah dipanen sekitar 40 persen dari total pertanaman ubi kayu seluas 2.834 hektare.

Sementara itu, Edi Januari, S.P., selaku Koordinator PPL Tepus, melaporkan bahwa wilayah Kapanewon Tepus secara keseluruhan pada bulan Juli telah memanen ubi kayu seluas 1.790 hektare, atau sekitar 60 persen dari total luas tanam ubi kayu seluas 2.983 hektare.

Untuk produktivitas, di Kapanewon Semin rata-rata mencapai 22 ton ubi kayu basah per hektare, sedangkan di Girisubo mencapai 32 ton ubi kayu basah per hektare. Demikian pula di Tepus, produktivitasnya dapat mencapai 32 ton ubi kayu basah per hektare.

Perbedaan produktivitas ubi kayu tersebut antara lain dipengaruhi oleh jarak tanam yang digunakan petani. Semakin rapat jarak tanam atau semakin banyak jumlah populasi ubi kayu per hektare, maka hasil panennya akan lebih tinggi.

Untuk pascapanen, ketiga PPL tersebut melaporkan tidak ada kendala karena pedagang maupun pengumpul di desa-desa atau pasar kapanewon telah bersedia menerima dan membeli hasil panen ubi kayu petani pada tahun 2026 ini.

Harga ubi kayu basah berada pada kisaran Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram, sedangkan harga gaplek berkisar antara Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram. Sulardi menambahkan bahwa di Girisubo rata-rata petani menjual hasil panennya dalam bentuk gaplek.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Rismiyadi, S.P., M.Si., menambahkan bahwa pada tahun 2027 pemerintah akan melaksanakan program hilirisasi ubi kayu, seperti pengembangan produk MOCAF maupun produk turunan lainnya yang memiliki nilai tambah lebih tinggi sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani. *(ry)

Previous Festival Cokelat 4.0: Setelah Juara Kebun Kakao dan Mutu Biji, Gunungkidul Kembali Raih Prestasi di Lomba Bean to Bar

Leave Your Comment